Minggu, 14 Agustus 2011

Perlahan Manusia Terkikis Oleh Robot


LONDON - (Berita SuaraMedia)  Kemajuan teknologi robot dapat menggantikan tentara manusia di medan perang. Kemungkinan ini tentu bukan isapan jempol semata. Seperti film Terminator, robot-robot mendominasi medan perang dan lebih efektif dalam menumpas musuh.

Apa yang terjadi di film Terminator ternyata dapat terelasisasi di medan pertempuran saat ini. Itu artinya, baku tembak di pertempuran bisa digantikan oleh robot, seiring meningkatnya protes banyaknya tentara manusia yang tewas di medan laga.

Diperkirakan, perang di masa depan akan lebih banyak dimainkan oleh robot-robot berteknologi tinggi. Tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah korban prajurit yang bertempur. "Kini, sekitar 8.000 robot telah diterjunkan di medan perang. Mereka dipercaya akan membawa misi revolusi militer. Sebagian besar robot kini diterjunkan ke darat dengan tugas non-tempur seperti penjinakkan bom dan pesawat tanpa awak," paparnya.

Quinn mengutarakan, di masa depan sangat menjanjikan penggunaan lebih banyak tentara robot di medan tempur, termasuk kendaraan perang tanpa awak manusia. "Semakin dekat, Anda akan ditembak. Inilah kelebihan robot yang mampu dikendalikan dari jarak jauh," paparnya, seperti dikutip dari BBC. Dia menegaskan, robot-robot bersenjata itu hanya dioperasikan dibawah kontrol tentara manusia. Alasannya, hingga kini, kata dia, robot tidak dapat beroperasi sendiri. Namun, menurut Peter Singer, penulis buku Wired for War, kecepatan perang modern akan membuat kontrol manusia semakin sulit.
Seperti halnya sistem pertahanan artileri otomatis yang diterapkan di Afghanistan. "Sistem tersebut akan menembak jika ditembak. Kita tidak dapat menghentikannya, kita hanya dapat mengaktifkannya," papar Singer.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana jika robot tersebut menyerang target yang tidak seharusnya dan melanggar hukum perang? Akademisi Amerika Serikat Patrick Lin yang bekerja untuk membuat etika robot untuk militer, mengungkapkan, robot dapat diprogram untuk mengikuti standar tertentu.

Meski demikian, dia tetap mempertanyakan, "Benarkah kita dapat melakukan itu dengan komputer kita?" ujarnya. Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menggunakan robot-robot canggih di pertempuran, baik itu di Irak maupun di Afghanistan.

Pentagon telah membuat kendaraan tanpa pengemudi yang disebut EATR. Robot mobil itu dapat mengisi ulang bahan bakar sendiri dengan materi organik ketika berjalan jarak jauh. Penemu EATR, Dr Robert Finkelstein dari Robotic Technology Inc, mengungkapkan, penemuannya membutuhkan bahan-bahan organik sebagai bahan bakar dan lebih vegetarian dibandingkan manusia.

"Robot hanya dapat melakukan apa yang diprogramkan, dan dia memiliki fitur-fitur tertentu," tambahnya. Menurut Finkelstein, robot mampu menghindari kesalahan yang dilakukan prajurit manusia. Dia menuturkan, robot diprogram dengan secukupnya dan dibuat agar sedikit melakukan kesalahan seperti membunuh warga tak bersalah, dan kelompok bukan musuh.

"Robot tidak memiliki ikatan emosional, mereka tidak memiliki rasa takut, mereka dapat bertindak dalam beberapa situasi," ungkapnya. Namun, pihak yang lebih skeptis seperti Profesor Noel Sharkey, pendiri Komite Internasional untuk Kontrol Robot Bersenjata, mengatakan manusia lebih akuntabel sedangkan mesin tidak.

"Anda dapat melatih robot seperti apa pun yang Anda inginkan, dan menjadikannya mematuhi semua aturan di dunia. Tapi, jika apa yang diprogramkan tidak benar, jadi ya begitulah," paparnya.

Dengan revolusi militer, Christopher Coker dari the London School of Economics, menjelaskan, komputer tidak mampu menstimulasikan "etos pahlawan", pemikiran, dan etika tentara profesional. Selama ini, revolusi militer robot telah diterapkan dalam pesawat udara seperti pesawat tanpa awak milik AS di Afghanistan.

Sedangkan penerapan robot di darat, masih terbatas. Sementara itu, Yoshiyuki Sankai, pakar robot ternama dari Jepang, menciptakan HAL (hybrid assistive limb), yaitu pakaian robotik yang telah dikembangkan untuk membantu gerakan dan menambah tenaga orang yang memakainya.

Sankai menerima undangan resmi dari Departemen Pertahanan Jepang untuk mempresentasikan "pakaian robot" yang dibuatnya. Sedanngkan Brian Hart yang kehilangan putranya, John Hart, yang gugur dalam perang Irak pada Oktober 2003, membuat Brian sukses menciptakan robot pendeteksi bom.

Dia pun membuat sebuah kendaraan robot yang dirancang khusus untuk menjinakkan bom. Robot yang dinamakan LandShark (Hiu Darat) itu dilengkapi sejumlah sensor canggih yang dapat mendeteksi dan menonaktifkan bom

Seperti yang kita tahu bahwa dewasa ini memang Kemajuan kecerdasaan buatan meningkat dengan sangat mengagumkan. Dimulai dari lahirnya Deep Blue yang diciptakan oleh IBM, yang mampu mengalahkan pecatur legendaris Kaskarov. Serta proyek ambisius negara Jepang untuk menciptakan komputer generasi ke 5 yang berbasis Artificial Intellegence.

Tapi tahukah kamu bahwa pengembangan - pengembangan robot semacam ini telah ada sejak  zaman dahulu,  Ternyata bentuk robot atau makhluk yang seperti robot telah ada sebelum jaman masehi. Kita mungkin telah mengenal beberapa legenda masyarakat eropa tentang Golem (Makhluk seperti manusia yang terbentuk dari batu atau tanah liat) atau para pembantu Hephaestus yang terbuat dari mesin – mesin dari Yunani. Tapi tidak hanya berupa imajinasi saja, Ctesibius dari Alexandria (250 SM) telah berhasil membuat organ (alat musik) otomatis.

Lalu sarjawan muslim, Al – Jazari (1136 – 1206 ) yang membuat sebuah rancangan tentang robot yang dapat diprogram. Robot menurut etimologinya berarti pekerja, yang bekerja keras, atau budak. Robot dapat diartikan sebagai mechanical creature (makhluk yang berbentuk seperti mesin). Keinginan manusia untuk menciptakan sebuah makhluk cerdas yang dapat bekerja tanpa protes dan patuh telah dilakukan sejak jaman renessaince hingga kini. Mulai dari sekedar rancangan dan impian lalu kini telah menjadi kenyataan

Demikian pula kemajuan embedded system khususnya dibidang robotika. Kelahiran P3 yang menjadi cikal bakal ASIMO sebagai robot humanoid yang telah diterapkan untuk membantu manusia, telah menunjukkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi embedded khususnya bidang robotika.
Perkembangan robot saat ini ternyata dipandang positif oleh departemen militer Amerika Serikat. Dimulai dari proyek pesawat tanpa awak yang digunakan pada perang teluk II dan hingga robot yang mampu mendeteksi arah tembakan sniper. Pengembangan robot yang mampu menggantikan tentara manusia di medan perang tidak mustahil telah dilakukan oleh negara – negara maju. Makalah ini berfokus kepada kehadiran robot militer di masa depan, dimana di satu pihak kehadiran robot ini oleh pengembangnya dipandang dapat menurunkan angka kematian prajurit. Di pihak yang lain, keberadaannya hanya memperburuk keadaan saat ini.

Kemajuan perangkat keras khususnya mikroprosessor dan mikrokontroller turut serta mengambil bagian dalam teknologi robot. Mikroprosessor yang menjadi bagian terpenting dalam teknologi robot, mengakibatkan robot tidak lagi hanya dapat berjalan, tetapi dapat tersenyum, tertawa, sedih dengan melihat keadaan sekitar seperti Kismet robot buatan Dr Cynthia. Penemuan ini lalu mengakibatkan pembuatan robot tidak hanya berkonsentrasi pada gerak, jumlah kaki dan tugas kerja saja. Keinginan untuk dapat membuat robot yang memiliki perasaan seperti layaknya manusia dan kecerdasaan seperti manusia pun mulai dilakukan. Mimpi ini mungkin telah diwakili oleh film – film animasi Jepang seperti Astro  Boy atau Doraemon.
Jepang merupakan negara yang menghabiskan dana terbesar dalam riset dan proyek penelitian robot. Hal ini dapat dilihat dari implementasi robot yang dilakukan oleh negara ini. Mulai dari robot pelayan yang menyajikan makanan hingga robot yang mampu menggantikan seorang presenter televisi.

Sisi ambisius manusia dalam pengembangan robot ternyata tidak hanya berhenti pada bidang pelayanan umum. Keinginan membuat sebuah alat perang yang tidak mungkin menolak perintah dan tidak ragu dalam mengerjakan misi tentunya menjadi impian para petinggi militer di negara manapun juga.
Prajurit manusia dianggap memiliki banyak sekali kelemahan, seperti moral yang kadang naik dan turun. Keterlibatan perasaan saat menjalankan misi dan kemampuan untuk membangkang dari perintah. Hal ini juga tidak terlepas dari kurangnya minat para pemuda di negara maju untuk menjadi tentara. Sehingga wajib militer pun harus dikeluarkan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah ketika seorang prajurit gugur di medan perang, kepada keluarga yang ditinggalkan.

Hal – hal seperti diatas lah yang mengakibatkan sebuah robot yang dapat berperang dan menggantikan peran tentara di medan perang sangat dibutuhkan.
Bila dilihat dari sisi ekonomis tentunya ini lebih murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining seorang manusia untuk dapat menjadi tentara yang baik.

Dari sisi delivery, robot tentara lebih unggul dari prajurit manusia. Robot tentara dapat diproduksi masal. Bisa jadi sebuah pabrik dapat menghasilkan puluhan ribu robot dalam sebulannya, dibandingkan harus mencari dan merekut pemuda yang berusia 18 – 25 tahun.

Banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh oleh sebuah negara jika mampu mengembangkan robot tentara ini. Tidak ada lagi prajurit yang harus dikobarkan, dan tidak ada lagi keluarga prajurit yang harus menangis karena sanak keluarganya tewas di medan pertempuran.

Amerika sebagai negara adikuasa tentunya sudah memikirkan masak – masak tentang robot – robot yang mampu berperang. Kehadiran pesawat  tempur tanpa awak dalam perang teluk ke II sudah menunjukkan keseriusan militer Amerika dalam pengembangan embedded system, kecerdasaan buatan dan teknologi robot di bidang militer.

Seperti yang telah kita ketahui, internet mulanya adalah proyek Departement of Defense Amerika Serikat untuk membuat sebuah sistem komunikasi yang tidak akan mudah hancur karena serangan fisik. Teknologi wireless seperti handphone yang kini telah menjadi kebutuhan sehari – hari komunikasi di Indonesia, juga tidak terlepas dari kebutuhan militer yang berkeinginan agar setiap prajurit dapat berkomunikasi dengan pusat komando dengan mudah. Atau di Indonesia sendiri, penggunaan robot oleh tim Gegana dalam menjinakkan bom juga termasuk contoh implementasinya.

Israel sendiri sebagai negara yang memiliki hubungan tidak baik dengan para negara tetangganya juga dikabarkan telah mengembangkan tank – tank wireless yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Tentunya hal ini sangat luar biasa bila dilihat dari sisi teknologi embedded. Dapat saja terjadi di masa depan dimana setiap instrumen – instrumen militer dapat digerakkan dari jarak ribuan kilometer.

Jika tadi kehadiran robot – robot militer dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan, tetap saja robot – robot militer tersebut tetap memiliki tujuan yang sama dengan tentara manusia yaitu sebagai alat yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Tetap saja sasaran – sasaran yang dihancurkan sama, jika tidak perangkat militer, bangunan pasti manusia. Hal – hal inilah yang mungkin membuat beberapa peneliti / pengembang tidak setuju penggunaan robot dalam militer.

Robot – robot ataupun instrumen militer yang dibuat tentunya lebih efektif dibandingkan tentara manusia, mereka tidak ragu dalam menembakan peluru, rudal maupun misil ke arah orang dewasa maupun anak – anak. Tidak ada perasaan yang dilibatkan hanya perintah dan kode – kode instruksi yang  dijalankan dalam bentuk bit – bit oleh mikroprosessor, 100% efektif.

Manusia pun juga sudah menyadari akan ketakutan tentang kehadiran robot – robot dalam militer. Hal ini dapat dilihat dari film Terminator yang diproduksi oleh Hollywood. Dimana robot – robot militer lepas kontrol

Penggunaan embedded system dan artificial intellegence memberikan kemudahan pada manusia di berbagai bidang. Implementasi dari embedded system dan artificial intellegence adalah teknologi robotika. Fungsi robot sangat membantu baik di bidang industri hingga medis. Robot juga memiliki kemampuan menggantikan manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berbahaya seperti peran astronot di stasiun antariksa.

Polemik penggunaan teknologi robot dalam bidang militer telah menjadi perdebatan para ahli. Baik itu keuntungan yang dapat diperoleh serta kerugian yang akan dirasakan. Setiap teknologi yang diciptakan manusia dapat menjadi pedang bermata dua yang tiba-tiba dapat menyerang siapapun termasuk tuannya sendiri. Hal ini telah diketahui semenjak dinamit hingga bom atom ditemukan. (Dari berbagai sumber
»»  read more

Zions Israel Pembantai Bayi 12 Bulan Di Gaza


GAZA (Berita SuaraMedia) – Sekali lagi kebiadaban binatang Israel kembali memperlihatkan wujudnya. Seorang bayi tercatat menjadi korban paling akhir dari blokade dan berbagai tindakan kejam Israel di Jalur Gaza.
Pada hari Senin kemarin, bayi laki-laki yang hanya sempat hidup selama 12 bulan, bernama Muhammad Rami Ibrahim Nofal, menghembuskan nafasnya yang terakhir disaat para dokter menunggu keluarnya "ijin" Israel untuk membawa bayi malang tersebut keluar dari Gaza agar dapat mendapatkan perawatan medis yang lebih layak.
Bayi tersebut, yang menghembuskan nafasnya yang terakhir di kota Khan Yunis yang terletak di sebelah selatan, telah didiagnosis mederita kelainan jantung yang parah.
Disaat Gaza sangat bergantung kepada sistem kesehatan di luar wilayah tersebut untuk pelayanan kesehatan yang lebih memadai, Israel menerapkan blokade militer secara biadab. Blokade Yahudi tersebut memaksa para pasien yang sakit dan pasien yang berada dalam keadaan kritis untuk mencari jalan keluar dari Jalur Gaza.
Kematian bayi tersebut membuat jumlah korban yang meninggal karena tidak diperbolehkan keluar dari wilayah Gaza menjadi 337 orang. Blokade Israel tersebut sekaligus dijadikan sebagai alat untuk perlahan-lahan membunuh warga sipil Palestina Jalur Gaza.
Berdasarkan sebuah laporan berjudul "mempergunakan kesehatan sebagai tebusan" yang dirilis pada bulan Agustus oleh persatuan dokter untuk hak asasi manusia, terungkap bahwa pihak Israel memang sengaja memanfaatkan penyakit fatal sebagai salah satu cara mereka untuk memaksa dan menekan warga sipil Palestina yang bermukim di Gaza, dan juga untuk memata-matai warga Palestina di Jalur Gaza.
Menurut laporan tersebut, Israel sengaja mecegah para pasien untuk meninggalkan wilayah tersebut. Pasien yang ingin keluar dari wilayah Gaza untuk menerima perawatan medis hanya diperbolehkan keluar jika mereka bersedia memberikan imbalan kepada pemerintah Israel di Tel Aviv. Imbalan yang dimaksud berupa informasi yang diinginkan oleh pemerintah negara Yahudi tersebut.
Perawatan medis untuk anggota masyarakat yang paling tidak tertolong, menurut laporan tersebut, memang dibuat sebagai alat – secara langsung maupun tidak – oleh Israel secara berkala.
"Saya memutuskan dan menetapkan peraturan, dan kalian akan melihat sendiri apakah kalian bersedia melakukan apa yang saya perintahkan, jika ya, maka saya akan mengijinkan kalian untuk pergi ke rumah sakit Ichilov," demikian kutip laporan tersebut dari ucapan seorang petugas interogasi kepada seorang pasien. "Sekarang, bergantung kepada kalian sendiri, apakah kalian bersedia memenuhi permintaan saya dan tunduk."
Israel melancarkan blokade terhadap Jalur Gaza sejak pemerintah Palestina pimpinan Hamas yang terpilih melalui pemilihan umum yang jujur, adil dan demokratis, mengambil alih wilayah tersebut pada pertengahan bulan Juni 2007.
Mesir, yang tetap bersikeras bahwa perbatasan mereka dengan Gaza adalah titik transit Mesir-Israel, memberlakukan hal yang sama terhadap warga Palestina dan terus menutup jalur vital tersebut sejak 2007.
Blokade tersebut masih terus berlangsung pada akhir Desember dan pertengahan Januari saat Israel melancarkan agresi militernya ke Gaza, langkah tersebut dilakukan Israel untuk menghalang-halangi upaya rakyat sipil yang ingin pergi meninggalkan zona perang.
Sekitar 1.400 orang warga Palestina kehilangan nyawa dalam pembantaian berkedok operasi militer tersebut.
Menurut agen PBB, blokade yang diterapkan pada wilayah yang berpenduduk sebanyak 1,5 juta orang tersebut semakin diperketat dalam beberapa bulan belakangan. (dn/ptv)
»»  read more

Fidel Castro Prediksikan Datangnya Kiamat


HAVANA (Berita SuaraMedia) – Mantan pemimpin Kuba, Fidel Castro akan menghadiri sesi khusus di parlemen pada hari Sabtu (31/7) waktu setempat. Kemunculan itu menjadi kemunculan perdananya dalam ajang resmi pemerintahan sejak didera penyakit parah empat tahun yang lalu. Hari Jumat malam, televisi pemerintahan Kuba mengumumkan bahwa sang mantan presiden menghadiri sesi yang ditayangkan secara nasional tersebut.
Namun, tidak disebutkan bahwa Castro akan berpidato dalam ajang tersebut. Sesi itu membahas mengenai ancaman perang nuklir. Secara logika, sulit membayangkan mulut Castro tidak gatal mengomentari perang nuklir.
Sesi tersebut digelar atas permintaan Castro, yang telah menulis banyak artikel mengenai topik tersebut selama berbulan-bulan. Castro menyebut AS dan Israel akan menyerang Iran, dan Washington juga bisa menyerang Korea Utara.
Castro, yang akan menginjak usia 84 pekan depan, menyatakan bahwa konflik tersebut bisa mengakibatkan bencana layaknya kiamat. Dalam beberapa tulisan opini, dia bahkan memprediksikan bahwa pertempuran memang telah dimulai.
Setelah empat tahun "menghilang" pasca-operasi darurat pada tahun 2006, Castro kini mendadak nyaris tiap hari muncul di hadapan umum.
Castro terakhir kali hadir di parlemen Kuba satu bulan sebelum kondisi kesehatannya memburuk. Sejak saat itu, para anggota dewan membiarkan satu kursi kosong untuk Fidel, meski ia tidak pernah muncul karena kesehatannya.
Fidel Castro memimpin Kuba selama 49 tahun. Hal itu berawal dari pemberontakan yang dipimpinnya dan berhasil menggulingkan Fulgencio Batista tepat pada Tahun Baru 1959.
Saat kondisi kesehatannya memburuk, Fidel menyerahkan kekuasaan kepada Raul Castro, adiknya yang berusia lima tahun lebih muda. Raul menjadi pemimpin sementara, namun kemudian dipermanenkan setelah Fidel secara resmi mengundurkan diri pada Februari 2008. Suksesi kekuasaan tersebut disetujui parlemen dalam rapat yang tidak dihadiri Fidel.
Kemunculan Fidel di parlemen akan melahirkan tanda tanya mengenai kemungkinan ia kembali mengambil alih kekuasaan di pemerintah.
Bahkan sebelum memberikan konfirmasi akan menghadiri sesi parlemen tersebut, para pemimpin di Kuba satu suara dengan media pemerintah dan memanggil Fidel dengan sebutan "Komandan Tertinggi", sebuah titel yang tidak lagi ia sandang sejak menyerahkan kekuasaan.
Sambil kadang-kadang mengenakan seragam militer warna hijau zaitun, Fidel Castro sering berpidato di hadapan kaum intelektual Kuba dan berbagai pertemuan yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Komunis. Fidel bahkan mengunjungi sebuah akuarium di Havana dan menonton pertunjukan lumba-lumba. Tapi, ia absen dalam pertemuan reguler parlemen minggu lalu dan sejauh ini belum pernah muncul berbarengan dengan Raul.
Masih belum jelas apakah kedua bersaudara itu akan menghadiri sesi rapat parlemen tersebut. Jika ya, maka kesempatan itu akan jadi kemunculan publik pertama keduanya secara berdampingan sejak Fidel menjalani operasi.
Juli lalu, Castro tiba-tiba muncul kembali di hadapan televisi. Tokoh berusia 83 tahun tersebut tampak sehat saat berbicara panjang lebar membahas mengenai masalah internasional mengenai Mesa Redonda (Meja Bundar), meski terkadang suaranya terdengar lemah.
El Commandante (sang komandan) berbicara perlahan, kemunculannya tersebut membuatnya kembali jadi pusat perhatian setelah lama menghilang.
Sebelumnya telah muncul foto-foto Castro di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak Juli 2006, ketika ia menjalani operasi bedah dan menghilang dari hadapan umum.
Ia menjalani operasi bedah usus pada 2006. Kesembuhannya dirahasiakan oleh negara, dan kondisi kesehatannya menjadi bahan pembicaraan warga Kuba yang diasingkan di Florida.
Pemimpin revolusi Kuba tersebut duduk di belakang meja di sebuah ruangan kantor yang dihiasi dekorasi minimalis. Ia mengenakan kaus kotak-kotak yang dibalut jaket olahraga berwarna biru dengan resleting di depan kemudian ia mulai menjawab pertanyaan. Lokasi wawancara tersebut dirahasiakan. (dn/kc/ap/sm)
»»  read more

Ashkenazi Beberkan Skandal Dokumen Palsu IDF


TEL AVIV (Berita SuaraMedia) – Kepala Staf IDF Gabi Ashkenazi mengatakan kepada polisi bahwa dirinya memiliki salinan dokumen yang tengah diperdebatkan terkait penunjukan kepala staf IDF berikutnya sebelum hal itu diekspos di tayangan berita televisi Channel 2 pada tanggal 6 Agustus lalu. Dokumen tersebut, yang memasang logo Arad Communications, disebut-sebut menggambarkan kampanye hubungan masyarakat untuk pemimpin Komando Selatan, Yoav Galant, yang tercatat di antara nama-nama calon penerus Ashkenazi.
Polisi saat ini meyakini bahwa dokumen itu palsu dan merupakan bagian dari rencana yang melibatkan para personel senior IDF, baik yang masih aktif maupun yang sudah purnatugas.
Puluhan orang memberikan pernyataan kepada polisi sehubungan dengan skandal tersebut. Para penyidik diharapkan mulai menanyai para tersangka yang telah mendapat peringatan.
Rincian signifikan mengenai skandal tersebut muncul kemarin, setelah lebih dari satu munggu namun hanya ada sedikit yang bocor kepada media.
Ashenazi ternyata menjadi sumber penting informasi untuk polisi. Dialah yang mengakui bahwa "dokumen Galant" tersebut berada di kantornya selama berminggu-minggu dan bahwa ia tidak melakukan apa pun terhadap dokumen itu.
Ia memberikan sebuah salinan dokumen kepada polisi, hal itu membuat mereka menangguhkan permintaan agar Ashkenazi haris memenuhi perintah pengadilan. Hal itu dilakukan demi memaksa Channel 2 merilis salinan dokumen yang disimpan.
Setelah menginterogasi dan memberikan tes poligraf kepada para staf komunikasi senior Arad, para penyidik kini yakin bahwa mereka tidak terlibat dalam pembuatan dokumen. Sebagian staf junior masih belum berbicara kepada polisi, namun mereka tidak dianggap sebagai tersangka utama.
Meski para penyidik kini sudah yakin bahwa keseluruhan dokumen itu palsu, mereka masih belum tahu siapa yang membuatnya atau apa motif pembuatannya.
Kemungkinan lain yang tengah didalami adalah, dokumen tersebut merupakan draf yang disusun oleh seorang pendukung Galant yang menginginkannya menjadi pucuk pimpinan IDF. Ada juga kemungkinan bahwa dokumen itu dibuat oleh seseorang yang dekat dengan Menteri Pertahanan Ehud Barak, dan dokumen itu kemudian jatuh ke tangan musuh Galant dan Barak, yang lalu menambahkan logo Arad. Tapi, skenario yang terakhir kemungkinannya kecil.
Jika hasil penyelidikan menjanjikan, maka polisi akan mempertimbangkan kemungkinan bahwa para perwira senior IDF mendalangi plot tersebut.
Meski Ashkenazi tidak dicurigai melakukan perbuatan kriminal dalam kasus tersebut, namun perilakunya betul-betul memicu tanda tanya di jajaran petinggi militer.
Sekitar siang hari kemarin, Ashkenazi dikabarkan memberikan dokumen kepada Advokat Militer, Mayor Jenderal Avichai Mendelblit, sesaat sebelum Channel 2 membocorkan cerita tersebut.
Jaksa pemerintah, Jenderal Yehuda Weinstein dalam pernyataan yang disampaikan kemarin malam menyatakan bahwa kelompok bantuan militer tidak pernah memiliki dan menyimpan dokumen tersebut. Hal ini berarti bahwa para petinggi militer selama berminggu-minggu memegang salinan dokumen yang memunculkan dugaan konspirasi untuk menyebabkan perpecahan antaara Ashkenazi dan atasannya, Menhan Ehud Barak, dan kemudian menaikkan Galant sebagai pemimpin IDF sekaligus mendiskreditkan para kandidat lain yang ingin mendapatkan jabatan itu.
Amos Harel dari situs berita Israel, Haaretz, dalam tulisannya menyebutkan, "Sepengetahuan saya, terkait ketidakpercayaan Ashkenazi yang amat besar terhadap Barak, dan juga hubungan antara biro menhan dan Galant, membuat saya yakin bahwa mungkin saja sang kepala staf keliru dan mengira dokumen itu asli."
"Lalu mengapa Ashkenazi berbuat demikian? Tanpa alasan. Ia tidak memberitahu Barak tentang dokumen itu, ia juga tidak memanggil Galant untuk dimintai klarifikasi. Ia juga tidak meminta Weinstein atau Mendelblit agar memerintahkan investigasi segera.
"Lebih lanjut lagi, polisi menemukan bahwa keberadaan dokumen itu hanya diketahui segelintir tokoh Staf Jenderal empat bulan sebelum cerita itu dipublikasikan," tulisnya.
Menurutnya, di permukaan, Ashkenazi telah salah langkah. "Ia mencitrakan diri sebagai ‘tuan disiplin’, orang yang membangun kembali IDF menyusul kegagalan Perang Libanon Kedua. Dia adalah seseorang yang memerintahkan ribuan perwira IDF menghargai investigasi serius dari pucuk hingga ke akar, yang mengharuskan pengungkapan penuh dan sama sekali tidak memberikan toleransi terhadap kesalahan etika."
"Tapi, dalam hal ini, dalam kasus yang tampaknya mengandung unsur-unsur upaya rumit untuk menjatuhkan menteri pertahanan, tidak ada yang dilakukan," tambahnya.
Menurutnya, yang tampak dari tahapan awal investigasi dan keterangan para perwira senior berikut para ajudannya adalah buruknya hubungan di jajaran petinggi Kementerian Pertahanan Israel dan IDF.
"(Hal) ini menimbulkan kekhawatiran, karena ketegangan di perbatasan dengan Gaza meningkat. Tapi, tiga tokoh yang seharusnya menangani keadaan (Barak, Ashkenazi, dan Galant) sama sekali tidak bicara," tulis Harel. (dn/hz)
»»  read more

Jadi Tren, Perekrutan Usia Ilegal Militer Israe


TEL AVIV (Berita SuaraMedia) – Pada usia 74 tahun, Doron Baruch memiliki cucu 14 tahun dan seorang cicit Baruch Hashem, tetapi hal ini bukan berarti mencegah kakek tersebut dalam tugas satuan cadangan di IDF tiga kali dalam setahun. Kehadirannya menarik perhatian pada upacara penghargaan Senin untuk pasukan luar biasa IDF.
Peristiwa sederhana tersebut diadakan di rumah presiden di Yerusalem. Kasus Doron, ia melayani Komando Pusat IDF, ditempatkan sepanjang Garis Hijau, memegang peringkat kolonel. Mereka yang bertugas dengan pria tersebut bersikeras bahwa usianya bukanlah sebuah kelemahan, berkeras bahwa ia selalu mendorong tentara-tentara yang lebih muda disamping berkontribusi sebanyak mungkin.
Tugas pelayanan yang unik tersebut dibentuk pada 2001, terbentuk sekitar 300 relawan, kebanyakan melewati usia tugas pengabdian pokok. Unit komando tersebut adalah Letnan Kolonel Yimini Kahn, 57 tahun.
Schrage Lerner, 63 tahun, seorang kakek dengan empat cucu tersebut, baru-baru ini berhadapan dengan kanker prostat tetapi hal ini tidak mencegahnya untuk bertugas. "Mereka tidak ingin mengijinkan saya untuk bertugas" ia menjelaskan, "tetapi saya mengirim sebuah surat dan mengatakan jika Olmert dapat bertugas sebagai perdana menteri dengan kanker prostat, tidak ada alasan saya tidak dapat bertugas dalam satuan".
Semangat kakek Israel dalam melayani negaranya dengan bergabung dalam satuan IDF patut diacungi jempol, tetapi lain halnya jika anak-anak yang direkrut masuk dalam satuan IDF. Perekrutan anak dalam IDF merupakan sebuah masalah sosial yang serius yang harus dibicarakan dengan cepat, sebuah laporan dirilis pada Kamis oleh sebuah organisasi nonprofit menunjukkan.
Laporan tersebut, "Perekrutan Anak di Israel," menyelidiki cara-cara berbeda dimana anak-anak berumur di bawah 18 tahun ikut berpartisipasi dalam angkatan darat. Penyelidikan tersebut dilakukan oleh New Profile, sebuah organisasi Israel yang menentang layanan wajib militer dan dampaknya pada masyarakat.
"Masalah ini telah diangkat di dunia dan hanya masalah waktu bahwa masalah ini diangkat di Israel," Sergey Sandler mengatakan, satu dari tiga penulis laporan tersebut. "Kami berharap akan menuntun pada debat publik."
Menurut Sandler, melibatkan anak-anak Israel dalam aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan angkatan darat sebelum usia legal 18 tahun merupakan lazim diseluruh masyarakat Israel, termasuk dalam sistem pendidikan. Ia menambahkan bahwa merekrut anak-anak di bawah umur 15 tahun dianggap sebuah kejahatan oleh Mahkamah Peradilan Internasional.
"Mereka dianggap bertanggung jawab untuk tindakan-tindakan dari usia 18 tahun, tetapi persenjataan dan kemungkinan untuk terluka pada usia 16 tahun," Sandler mengatakan.
Neta Rotem yang juga menulis laporan tersebut, menyebutkan sebagai sebuah contoh yang melatih untuk Gadna, parlementer batalion pemuda, yang ditempatkan di bawah pengawasan dari komando-komando angkatan darat.
"Ini merupakan sebuah kemah musim panas dan mereka belajar apa yang tentara lakukan, bagaimana menggeledah rumah-rumah, dan bekerja dalam pos pemeriksaan," Rotem mengatakan. "Tetapi ini benar-benar perekrutan. Ini merupakan pelatihan untuk angkatan darat."
Perekrutan tersebut bukan hanya merekrut anak di bawah umur dari satu golongan saja. Para pemuda dari komunitas Druze terus meninggi mencapai angka tertinggi dari pendaftaran IDF di negara Yahudi. Pada 2008, lebih dari 859 anak muda Druze, atau 83 persen pria yang pantas dipilih, terdaftar untuk bertugas melayani angkatan darat.
"Kampung global dimana kita tinggal sekarang menghubungkan pemuda Druze dengan pemuda Yahudi, akan terdapat sebuah perbedaaan yang kabur antara dua agama dan perbedaan sosial antara mereka akan menghilang," ia memperkirakan.
Pemerintahan juga merasa senang dengan jumlah pendaftaran diantara minoritas yang tidak diharuskan oleh hukum untuk mendaftar, termasuk kaum Bedounis, Arab Kristen dan Arab Muslim.
Pada 2008, sekitar 370 anggota dari minoritas menjadi relawan untuk IDF – sebuah peningkatan yang tajam 62 persen dari jumlah tahun 2007. Pada gelombang perekrutan baru-baru ini, 150 minoritas muda menjadi sukarelawan. (ppt/ywn/du/anna)
»»  read more

Kamis, 16 Juni 2011

Pakistan: Tudingan AS Adalah Propaganda Negatif


ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) – Panglima Angkatan Darat Pakistan membantah tudingan Amerika Serikat yang menyebut Islamabad kurang banyak berbuat dalam perang melawan terorisme. Pada hari Selasa (14/6), Jenderal Ashfaq Kayani mengkritik hal tersebut dan menyebutnya propaganda negatif. Kayani mengatakan, upaya Pakistan menunjukkan keinginan nasional untuk mengalahkan militan.
Sang jenderal berbicara setelah berjumpa dengan komandan militer AS yang berkunjung ke Pakistan, Laksamana Mike Mullen, yang pada hari Senin (13/6) mengatakan bahwa sejumlah anggota dinas intelijen Pakistan telah lama menjalin hubungan dengan jaringan Haqqani di Afghanistan. Pakistan membantah punya hubungan dengan kelompok tersebut.
Para pejabat AS ingin Pakistan melancarkan serangan terhadap kawasan suku di Waziristan Utara, tempat sejumlah elemen jaringan Haqqani dan Taliban Afghanistan diyakini bersemayam. Pakistan mengatakan bahwa pihaknya masih mengonsolidasikan keunggulan militernya terhadap elemen domestik Taliban di kawasan lain di Pakistan.
Kayani juga menekankan kembali sikap Pakistan yang berkeberatan dengan serangan peluru kendali drone terhadap sejumlah target militan di Pakistan. Kayani mengatakan bahwa serangan-serangan tersebut merusak upaya yang dilakukan Pakistan dan tidak populer di mata rakyat.
Para pejabat AS tidak pernah mengakui penggunaan serangan drone di Pakistan, namun secara pribadi membenarkannya kepada sejumlah media.
Kunjungan Mullen selama dua hari dilakukan pada saat hubungan bilateral dengan AS tengah memburuk, menyusul penangkapan seorang kontraktor CIA di Pakistan dan sejumlah serangan drone di kawasan barat laut Pakistan, serta laporan Gedung Putih yang mengritik upaya kontraterorisme Pakistan.
Sebelumnya, Amerika Serikat mengatakan pihaknya tidak akan menghentikan serangan pesawat tanpa awak yang dilakukan di Pakistan. AS mengabaikan seruan berulang kali dari Islamabad dan rakyat Pakistan untuk mengakhiri serangan yang tidak diizinkan PBB tersebut.
"Program itu (serangan drone) adalah sesuatu yang, seperti sudah kami katakan sebelumnya, akan kami teruskan. Pertanyaannya adalah bagaimana, dan proses itu haruslah sesuatu yang akan jadi salah satu tugas utama intelijen dan militer kami," kata seorang pejabat AS yang meminta namanya dirahasiakan kepada kantor berita Reuters.
Hal tersebut disampaikan saat Kepala Staf Gabungan Laksamana Mike Mullen bertemu dengan para pejabat tinggi dinas intelijen Pakistan di Lahore.
AS sebelumnya bersikeras dengan posisinya mengenai kelanjutan serangan drone dalam sebuah pertemuan antara Direktur CIA Leon Panetta dan Letnan Jenderal Ahmad Shuja Pasha, kepala dinas intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI) di Washington pekan lalu.
Washington beberapa kali mengklaim menjalin kesepakatan dengan Islamabad untuk meluncurkan serangan semacam itu, tapi pemerintah Pakistan mengatakan, tidak ada kesepakatan semacam itu dan mereka beranggapan bahwa serangan udara tersebut merupakan pelanggaran berulang terhadap kedaulatan negara.
Lebih lanjut lagi, para anggota dewan Pakistan mengkritik keras serangan drone AS dan mendesak pemerintah meninjau kembali kebijakan luar negerinya dan lebih tegas untuk menghentikan serangan CIA di Pakistan. (dn/va/sm)
»»  read more

Obama minta Dana Perang $ 83 M, Amerika Siap Bangkrut!


AMERIKA (SuaraMedia) - Presiden AS telah meminta kepada kongres untuk menyetujui dana tambahan sebesar 83,4 miliar dollar Amerika sebagai tambahan biaya perang dan diplomasi di Irak dan Afghanistan. Barack Obama mengatakan bahwa 95 persen dari dana tersebut akan dipergunakan untuk mendukung operasi militer AS di Irak dan upaya untuk mengalahkan kelompok pejuang al-Qaeda dan Taliban di Afghanistan.
"Taliban kembali bangkit dan al-Qaeda mengancam Amerika dari perbatasan Afghanistan dan Pakistan," kata Obama kepada Nancy Pelosi, juru bicara Dewan Perwakilan Rakyat, dalam sebuah surat yang dikirimkan dari gedung putih.
Tambahan dana tersebut termasuk $3,6 miliar untuk Tentara Nasional Afghanistan.
Obama juga meminta $350 juta untuk peningkatan keamanan disepanjang perbatasan AS-Meksiko dan untuk memerangi geng pengedar narkoba, kemudian sebanyak $400 juta lagi untuk menanggulangi kekacauan di Pakistan.
Permintaan presiden AS tersebut, yang termasuk tambahan dana untuk pengiriman pasukan tambahan ke Afghanistan, akan meningkatkan biaya perang di kedua tempat tersebut hingga hampir mencapai $1 Triliun sejak serangan 11 September 2001, menurut kongres.
Namun, Gedung Putih mengetahui bahwa Obama bersikap kritis terhadap undang-undang yang sama yang diajukan oleh pemerintahan George Bush, pendahulu Obama, untuk membiayai perang.
"Mengingat masalah ekonomi AS yang semakin memburuk, (tambahan dana) ini akan menjadi tambahan biaya terakhir untuk Irak dan Afghanistan. Mengenai hal ini sudah dibicarakan dengan presiden, dan dia berjanji akan mengubahnya," kata Robert Gibbs, juru bicara Gedung Putih.
Mungkin saja keputusan tersebut membawa kebangkrutan telak bagi AS.
Pentagon kini akan menerima tambahan dana perang sebesar $142 miliar untuk tahun anggaran yang akan tutup buku pada tanggal 30 September mendatang.
Kebanyakan politisi Demokrat dan Republik kemungkinan akan mendukung rencana tersebut, namun golongan yang menentang perang mengatakan bahwa Obama harus melakukan lebih banyak lagi untuk mengakhiri operasi militer di kedua negara tersebut.
"Tambahan dana ini akan menerapkan dua hal – yang pertama, memperpanjang pendudukan AS di Irak paling tidak hingga akhir 2011, namun hal tersebut pasti akan memperdalam dan memperluas pengaruh militer kita di Afghanistan," kata Lynn Woolsey, seorang politisi Demokrat yang juga anggota wanita kongres dari California.
"Daripada berusaha mencari solusi militer dari permasalahan yang tengah kita hadapi di Irak dan Afghanistan, presiden Obama lebih baik mengubah dasar dari misi di kedua negara untuk memfokuskan diri pada upaya rekonsiliasi, perkembangan ekonomi, bantuan kemanusiaan, dan upaya-upaya diplomasi regional," tambahnya.
Tidak lama lalu, Obama juga telah menyetujui untuk mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan sebanyak 17.000 tentara. (dn/aljz/sm
»»  read more