Rabu, 08 Desember 2010

Milisi Anti-Taliban Tawarkan "Pelajaran" Untuk AS

MATANAI, Pakistan (Berita SuaraMedia) – Di desa yang terletak beberapa mil dari perbatasan Afghan itu, Noor Malik berjuang untuk menjaga kelangsungan hidup milisi suku pro-pemerintahnya. Pada musim gugur lalu, sebuah bom yang meledak di pasar ternak menewaskan 21 orang, di antara mereka adalah ayah Malik, pendiri milisi suku Adezai. Dua ledakan terakhir menewaskan lima pria suku dan membuat cacat yang lainnya. Roket-roket yang diklaim milik Taliban menghancurkan sebagian area keluarga itu.
"Kami berada di daftar teratas para militan," ujar Malik, pemuda berusia 25 tahun yang meneruskan kendali atas pasukan anti-Taliban terdepan di daerah tersebut. "Kami tidak bisa keluar untuk melakukan apapun."
Petinggi militer AS memuji pembentukan pasukan keamanan desa di Afghanistan sebagai pengubah permainan potensial dalam sebuah perang, mengutip keberhasilan unit-unit serupa di Irak. Tapi Pakistan mungkin bisa menjadi perbandingan yang lebih baik, karena suku-suku di kedua sisi perbatasan memiliki warisan Pashtun yang sama, menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran baru bagi pasukan asing.
Milisi suku, yang disebut laskar, telah mengurangi pengaruh di banyak bagian sabuk suku semiotonom Pakistan dan tempat-tempat lain di seluruh barat laut negeri. Tapi di banyak tempat lainnya, milisi-milisi melempem karena kurangnya dukungan pemerintah dan menghadapi tuduhan penganiayaan. Kebanyakan dari mereka, ujar para ahli dan anggota laskar, telah memberikan target yang menggiurkan bagi kelompok perlawanan.
Sejak bulan Oktober 2008, para pengebom-pengebom dan pembunuh para laskar dan telah mengambil sasaran khusus pada para tetua seperti ayah Malik, Abdul Malik.
Serangan terakhir terjadi pada hari Senin (6/12), ketika pengeboman ganda di wilayah adat Mohmand menewaskan setidaknya 50 orang dan melukai 120 lainnya. Anggota laskar dari area Khwezai mendatangi kantor pemerintah setempat pada hari Senin untuk mengambil upah ketika bangunan itu diserang. Laskar Khwezai dianggap sebagai yang paling efektif di wilayah adat tersebut.
"Kami sudah menyampaikan kepada orang-orang laskar untuk menghentikan aktivitas mereka, tapi mereka tidak mendengarkan," ujar Abdul Wali, pemimpin Taliban Pakistan di Mohmand. "Mereka adalah boneka Amerika karena mendukung pemerintah."
Di tahun 2008, militer dan polisi Pakistan mendorong tetua suku untuk membentuk laskar, dalam beberapa kasus mereka bahkan menawarkan rangsum, senjata, amunisi, dan upah. Dalam sejumlah wawancara, kepala laskar mengatakan setuju karena penculikan dan pembunuhan di wilayah mereka telah mulai mengancam pengaruh lokal klan mereka dan karena mereka menganggap militansi yang meluas adalah ancaman bagi negara. (rin/wp) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar